Pemerintah bersama Microsoft telah menggelar pertemuan untuk membahasmasterplan perluasan dan pengembangan perekonomian Indonesia. Pengembangan tersebut difokuskan pada sektor connectivity(sambungan jaringan), SDM (Sumber Daya Manusia), dan inovasi.
Senin, 13 Juni 2011
Microsoft Tertarik Kembangkan SDM Indonesia
BlackBerry Ungguli Android dan Apple
Tak dapat dipungkiri persaingan gadget di tanah air semakin ketat. Sebut saja persaingan antara ponsel pintar berbasis Android, Apple, dan BlackBerry. Persaingan penjualan ketiga ponsel pintar tersebut pun terlihat pada International Communication Expo & Conference (ICC), JCC, Senayan, Jakarta, yang berakhir Minggu, 12 Juni 2011.
Medan Magnet Cegah Serangan Jantung
Kondisi darah yang terlalu kental dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah, hingga meningkatkan resiko serangan jantung. Namun, Anda jangan khawatir. Penelitian dari Temple University, China, mulai menemukan solusinya.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Rongjia Tao telah menemukan bahwa medan magnet bisa membantu mengurangi kekentalan darah manusia dan mencegah serangan jantung.Tao yang juga Kepala Jurusan Fisika di Temple University itu pada awalnya mencoba medan magnet untuk mengurangi kekentalan minyak dalam mesin dan selang. Namun, kemudian dia menerapkan metode ini untuk mengencerkan darah dalam sistem sirkulasi tubuh manusia. Sebab, sel darah merah banyak mengandung zat besi.Dalam percobaan itu, Tao bisa mengurangi kekentalan darah sebesar 20-30 persen dengan meletakkan seseorang dalam medan magnet dengan kekuatan 1,3 Tesla (satuan internasional untuk intensitas magnet) selama satu menit. Tao dan teman-temannya telah melakukan uji coba terhadap sejumlah contoh darah di laboratorium Temple. Hasilnya, mereka menemukan medan magnet mampu memisah-misahkan sel darah merah, menyebabkan sel-sel itu tergabung dalam rangkaian pendek, dan melancarkan sirkulasi darah.Rangkaian sel darah merah ini lebih besar dari sel darah merah tunggal, sehingga mereka mengalir ke tengah dan mengurangi gesekan dengan dinding pembuluh darah.
Turunnya kekentalan ini, memberi efek sel darah bisa mengalir secara bebas. Ketika medan magnet dipindahkan, kekentalan darah lambat laun akan kembali, namun dalam waktu beberapa jam kemudian."Dengan memilih kekuatan dan durasi medan magnet yang cocok, kita akan mampu mengendalikan ukuran agregat sel darah merah untuk mengendalikan kekentalan darah," kata Tao sebagaimana dikutip laman medindia.net. "Metode magneto-reologi ini memberikan cara yang efektif untuk mengendalikan kekentalan darah dalam kisaran yang dipilih."Saat ini, satu-satunya cara untuk menipiskan darah hanyalah melalui obat-obatan seperti aspirin.
Namun, mengkonsumsi obat ini secara terus-menerus akan menimbulkan efek samping yang tidak bagus untuk kesehatan.Menurut Tao, metode medan magnet tidak hanya lebih aman, tapi juga bisa dilakukan secara berulang-ulang. Ketika medan magnet diterapkan kembali, kekentalan darah akan berkurang lagi. Dia juga menambahkan penurunan kekentalan itu tidak mempengaruhi fungsi normal sel-sel darah merah.Namun demikian, Tao mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Dia berharap pada akhirnya terapi ini dapat diterima untuk mencegah penyakit jantung.Tao dan mantan muridnya, Ke "Colin" Huang, sekarang duduk di Departemen Radiasi Onkologi di Universitas Michigan dan telah mempublikasikan penelitian mereka.
Selasa, 07 Juni 2011
Employee, self employed, owner, dan investor
Employee
Employe bila diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah pegawai, karyawan, atau pekerja, yang artinya adalah orang yang telah memenuhi syarat yang berwenang, diangkat oleh orang atau pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan yang diembannya, lalu digaji berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku atau kebijakan perusahaan yang telah ditetapkan.
Biasanya tiap-tiap karyawan dalam mengerjakan pekerjaannya akan dilihat bagaimana ia mengerjakan pekerjaannya mulai dari kedatangannya hingga hasil akhir dari apa yang dikerjakannya. Karyawan yang terbaik akan diberikan penghargaan seperti yang sering kita jumpai adanya “employee of the month”.
Self employed
Self employed adalah orang yang bekerja sendiri, bukan untuk majikan atau bos. Artinya adalah orang yang menciptakan pekerjaaan sendiri atau yang biasa disebut dengan wirausaha.Ia menciptakan pekerjaan dan memulai usahanya dari nol. Pada awalnya ia hanya bekerja sendiri, tetapi bila ia sudah mencapai pada titik kesuksesan, maka ia bisa mempekerjakan orang dan menggajinya. Terlebih lagi ia bisa membuat cabang usahanya kemana-mana atau hanya memilih sebagai pemilik tunggal.
Orang yang bekerja sendiri mempunyai pendapatan yang tidak terbatas dan tidak menentu. Keuntungan bulan ini mungkin tidak sama dengan keuntungan bulan akan datang. Tetapi untuk mencapai kesuksesannya harus siap menerima segala resiko yang ada.
Owner
Dalam bahasa Indonesia artinya adalah pemilik. Bila dikaitkan dengan dunia kewirausahaan owner adalah orang yang memiliki sebuah perusahaan atau lapangan pekerjaan. Ia juga mempekerjakan orang – orang dan juga menggajinya.
Seorang pemilik perusahaan harus mempunyai taktik dan rencana yang matang untuk memajukan perusahaannya. Karena ia adalah pemilik dari suatu perusahaan, maka owner mempunyai kewenangan tertinggi untuk membuat kebijakan di perusahaannya.
Investor
Dalam dunia keuangan, investor adalah orang perorangan atau lembaga baik domestik atau non domestik yang melakukan suatu investasi (bentuk penanaman modal sesuai dengan jenis investasi yang dipilihnya) baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Terkadang istilah "investor" ini juga digunakan untuk menyebutkan seseorang yang melakukan pembelian properti, mata uang, komoditi, derivatif, saham perusahaan, ataupun aset lainnya dengan suatu tujuan untuk memperoleh keuntungan dan bukan merupakan profesinya serta hanya untuk suatu jangka pendek saja.
KOMPARASI PERAN MILITER ERA MEGAWATI DAN SBY
Sudah merupakan hal yang pasti bahwa beda presiden sudah pasti berbeda pula kebijakan – kebijakannya, begitu juga dalam hal peran militer di era Megawati dan SBY. Bila kita melihat dari apa yang sudah saya paparkan diatas, militer pada masa Megawati cenderung terkesan “dimanjakan”. Hal ini terlihat dalam kebijakan Megawati dalam melakukan perundingan dengan Rusia untuk membeli ranpur (kendaraan tempur) untuk TNI-AU. Idenya untuk memperkuat alutsista sudah bagus, hanya saja terkesan diam – diam karena tidak dirundingkan dengan pihak TNI terlebih dahulu, dan bisa dibilang termasuk pemborosan uang karena pesawat tersebut dinilai buruk.
Berbeda dengan SBY, dalam kebijakan untuk memodernkan alutsistanya terkesan kurang bila dibandingkan dengan alutsista POLRI. Menurut saya, hal ini dikarenakan di Indonesia sering terjadi kasus terorisme, khususnya peledakan bom yang sedang maraknya saat ini. Karena itulah, alutsista POLRI lebih ditingkatkan kualitasnya, sehingga TNI terkesan kurang diperhatikan.
Sikap TNI menjelang pemilu pun pada pemerintahan Megawati benar – benar diminta untuk benar – benar netral dan tidak berpihak pada salah satu parpol. Seperti yang telah dijelaskan bahwa ia meminta Panglima TNI untuk menginstruksikan semua anggotanya untuk melaksanakan netralitas secara total, meskipun tidak menutup kemungkinan ada sebagian oknum yang melanggarnya dikarenakan faktor kondisi. Sedangkan militer di SBY menjelang pemilu sedikit mengalami kegoyahan seperti pada kasus penyediaan logistik pemilu.
PERAN MILITER ERA SBY
Kalau kita melihat militer dalam masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2004 – 2009 dan 2009 – 2014 (meskipun periode 2009 – 2014 belum selesai pada temponya), militer pada pemerintahan SBY juga kurang menonjol perannya diluar perannya sebagai alat pertahanan negara. Hal ini bisa kita lihat dalam 100 hari pertama pemerintahan SBY, dimana tidak ada kebijakan – kebijakan khusus yang mengatur tentang militer. Pada awalnya kebijakan mengenai militer ini adalaha kekhawatiran yang muncul di benak masyarakat semenjak terpilihnya SBY pada pemilu tahun 2009, mengingat SBY adalah lulusan dari AKMIL yang berarti backgroundnya adalah militer.
Namun, kekhawatiran tersebut tidaklah terlalu besar, karena SBY mendukung dengan dihapuskannya dwi fungsi ABRI dan beliau juga mendukung ditegakkannya demokratisasi demi tercapainya NKRI yang benar benar mewujudkan demokrasi untuk rakyatnya. Sebagian besar anggota kabinetnya, baik pada kabinet Indonesia bersatu jilid 1 dan jilid 2, adalah mereka yang bersasal dari sipil, demikian halnya dengan gubernur, bupati, dan pemimpin – pemimpin yang lainnya juga sebagian besar dari sipil. Dalam mengganti panglima – panglima TNI SBY juga terlihat lebih hati – hait dalam pemilihan ini. Ia memilih orang yang dinilai memiliki loyalitas yang tinggi terhadap TNI.
Keikutsertaan militer dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di negara juga tidak terlalu kelihatan, contohnya militer pada pemecahan kasus RI – GAM yang tidak terlalu signifikan. Bila kita lihat, pemecahan masalah ini dilakukan dengan jalan diplomasi, dan tidak ada campur tangan militer (TNI) sedikitpun. Kalaupun ada, pihak militer hanya sebatas melucuti senjata tentara GAM dan mengamankannya. Dengan kata lain, dalam kasus ini membuktikan bahwa militer pada era SBY hanya digunakan bilamana konflik yang terjadi di lapangan sudah benar – benar tidak bisa diatasi lagi dengan jalur damai.
Peran militer di era ini dalam mempertahankan keamanan negara yang paling mencolok terletak pada masalah di perbatasan negara Indonesia dan Malaysia. Seperti yang kita ketahui, Banyak sekali kasus pelanggaran batas negara yang dilakukan oleh Malaysia. Dalam hal ini, TNI (khususnya TNI – AL) berkewajiban untuk menjaga daerah perbatasan Indonesia. Begitu juga halnya dalam pembebasan anak buah kapal yang disandera oleh perompak Somalia baru-baru ini. TNI mengerahkan anggotanya untuk membebaskan para sandera sampai terjadi baku tembak yang menewaskan 4 orang peompak Somalia.
Dalam segi alutsista, semua senjata – senjata dan kendaraan(khususnya darat) TNI dipasok oleh PT. PINDAD, seperti senapan serbu, pistol, bahan peledak, panser, dan lainnya. Namun modernisasi alutsista TNI pada pemerintahan SBY terlihat kurang optimal dibandingkan dengan POLRI, karena bila dilihat, senjata POLRI lebih modern ketimbang TNI karena faktor terorisme yang selalu hangat dibicarakan di Indonesia.
Dalam dunia politik, menurut saya netralitas TNI dalam polotik, khususnya pada saat pemilu 2009, terdapat sedikit kegoyahan dalam menjalankan netralitasnya. Dalam pesta demokrasi yang diadakan setiap lima tahun sekali itu TNI terlibat dalam penyediaan distribusi logistik pemilu. Hal ini sudah pasti menandakan bahwa TNI memiliki kepentingan politik di dalam pelaksanaan pemilu. Keterlibatan TNI dalam hal ini dapat mempengaruhi netralitas di dalam tubuh TNI. Kalau memang distribusi logistik itu perlu melibatkan TNI, seharusnya perintah itu dilontarkan langsung dari panglima tertinggi, yaitu presiden.
Pada akhirnya, kita hanya bisa mengetahui peran militer pada pemerintahan SBY secara jelas pada pemerintahannya pada periode 2004 – 2009, sedangkan di periode 2009 – 2014 kita masih belum bisa mengetahui peran militer di periode ini secara jelas karena pemerintahan SBY periode ini baru berjalan kurang lebih dua tahun.
PERAN MILITER ERA MEGAWATI
Megawati Soekarno Putri adalah presiden perempuan pertama di Indonesia yang menjabat pada periode 2002 – 2004. Beliau juga merupakan putri dari Mantan Presiden Soekarno, presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bila kita melihat pada pemerintahan beliau terdahulu, militer pada pemerintahannya kurang terlihat secara jelas. Hal ini mungkin dikarenakan Megawati bukan berasal dari background militer, melainkan sipil.
Perwakilan ABRI di MPR/DPR dihapus. Jabatan menteri, gubernur, dan bupati tidak ada lagi dari kalangan militer. Militer kembali ke barak, tidak lagi ikut mengelola negara. Militer hanya mengamankan negara terhadap invasi dari luar saja. Keamanan dalam negeri diserahkan kepada Polri yang tidak lagi bergabung dengan TNI yang dahulu dinamakan ABRI.
Peran militer yang hanya sebatas sebagai alat untuk pertahanan negara pada pemerintahan Megawati dilakukan agar dilema yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu pemerintahan yang didominasi oleh militer sehingga terkesan otoriter, tidak terulang kembali, sehingga masyarakat Indonesia tidak merasa takut dalam berbagai hal, karena militer benar – benar hanya sebagai alat pertahanan negara saja. Hal yang serupa pun sudah dilakukan pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gusdur, yang mana beliau juga berlatarbelakang non militer atau sipil.
Megawati pada masa pemerintahannya tidak terlalu antusias untuk mendorong adanya reformasi militer. Hal ini dilakukan karena sejak kejatuhan Gus Dur ada anggapan di kalangan politisi sipil bahwa kalau tidak menjaga hubungan baik dengan militer, posisinya lebih gampang digoyang dan rapuh. Oleh karena itu pemerintahan Megawati lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan yang menyangkut kepentingan militer khususnya penegasan peran militer.
Dalam dunia politik, sikap netral militer terhadap dunia politik ditunjukkan dengan cara TNI mengingstruksikan kepada anggota – anggotanya untuk bersikap netral dalam kancah politik, tidak berpihak dan mendukung salah satu parpol, tidak mengomentari jalannya perpolitikan di Indonesia. Demikian juga halnya pada saat menjelang pemilu 2004, Panglima TNI selalu mengingatkan untuk jaga jarak dengan semua partai politik dan selalu netral.
Untuk mewujudkan netralnya TNI dalam pemilu 2004 antara lain adalah dengan sosialisasi mengenai netralitas TNI selama kurang lebih enam bulan yang diserahkan kepada SKOMSOS (Staf Komunikasi dan Sosial). Namun semua itu tergantung dari masing – masing daerah. Ada daerah yang TNI benar – benar totalitas dalam menjalankan netralitas, dan tak menutup kemungkinan juga ada juga yang agak longgar dalam pelaksanaanya. Dengan kata lain kondisi dalam suatu wilayah juga mempengaruhi totalitas TNI dalam menjalankan netralitas.
Dalam hal pemantapan alutsista (alat utama sistem persenjataan), TNI, khususnya Angkatan Udara (AU) dibekali dengan pembelian pesawat tempur Sukhoi jenis SU- 27 dan SU – 30, serta dua buah helikopter jenis MI – 35 yang mana semuanya dibeli dari Rusia. Kebijakan ini bertujuan agar TNI – AU dapat mempertahankan wilayah udara RI lebih efektif lagi mengingat sudah banyak pesawat – pesawat tempur Indonesia yang sudak tidak layak terbang dan banyak yang termakan usia.
Kebijakan ini pun akhirnya menuai pro dan kontra dimana yang pro beranggapan bahwa hal ini perlu dilakaukan mengingat alutsista yang sudah termakan usia seperti yang sudah disebutkan diatas, sedangkan pihak yang kontra menilai bahwa kebijakan ini dilakukan oleh Megawati tanpa mempublikasikannya, artinya perundingan antara Indonesia dan Rusia terkesan tertutup dan TNI – AU tidak mempunyai rencana untuk membeli pesawat sukhoi tersebut dinilai berkualitas buruk.
Langganan:
Postingan (Atom)